Dia dan Sang Maut, Pagawana

“Beginikah rasanya dekat dengan ajalmu,” batinnya. Ia menelan ludah dengan berat. Cuma beberapa meter di depannya sang maut berdiri dengan posisi memunggunginya.

Dalam gerakan hati-hati ia berjalan mundur namun saat ia memutar tubuh bersamaan itu juga sang maut menoleh. Ia pun berlari. Ia kerahkan seluruh tenaganya untuk berlari. Lama ia berlari sampai ia merasakan tak mendengar sang maut mengejarnya. Ia beranikan diri untuk menoleh kebelakang. Sang maut masih berdiri di posisinya tadi, tak beranjak. Ia bisa melihat sang maut tersenyum kearahnya. Sebuah senyum mengerikan yang membuatnya merinding. Tiba-tiba ia mendengar raungan klakson. Ia menolehkan kepalanya kesisi lain. Terlambat. Sebuah truk tronton datang menghantamnya, mengakhiri hidupnya.

Iklan

Aku memikirkan ini sebelum menuliskan ini, Pagawana

Aku memikirkan ini sebelum menuliskan ini. Aku punya sebuah cerita di dalam kepalaku, lebih tepatnya potongan-potongan adegan. Aku duduk di meja belajarku, menarik selembar kertas dan mengambil sebuah pena. Aku sudah siap menulis ketika baris pertamaku tak sesuai keinginanku. Aku mengangkat ujung penaku dari kertas. Aku ingin baris kalimat pertamaku seperti baris kalimat pertama metamorphosis Kafka–mengejutkan dan menukik ke permasalahan. Aku pun memandangi permukaan kertas yang putih. Aku merangkai kata-kata dan membayangkan baris kalimat pertamaku tertulis di kertas itu. Tidak cocok, kurang mengejutkan. Tidak cocok, kurang menukik ke permasalahan. Baris kalimat pertamaku tak kunjung muncul sesuai keinginanku. Aku mengerang. Aku membanting penaku dan aku meninggalkan meja belajarku.

Perang, Pagawana

Berlandaskan alasan yang sama–cinta tanah air dan bela negaranya masing-masing–cucu-cucu Adam-Hawa datang ke gelanggang perang untuk saling menembak, menikam, dan membunuh.

Anak laut, Pagawana

Entah sudah berapa lama aku mengarungi lautan. Tubuhku sudah hancur dimakan ikan-ikan dan plankton-plankton. Hanya jiwaku saja yang masih hidup. Hidup karena satu tujuan dan embanan tugas dari ibuku. Aku mencari ayahku.

Ibuku melakukan segenap cara mengeluarkanku dari rahimnya. Ia meminum dan memakan makanan aneh yang membuatku sakit. Lalu di umurku yang baru 6 bulan aku akhirnya keluar. Ia bersandar di dinding kamar mandi, terengah dengan senyum lega melihatku yang tergeletak di ubin yang dingin. Lalu dengan kekuatan yang tersisa ia memasukanku kedalam tas kresek. Ia membawaku ke dermaga dan disitulah ia memberikan tugasnya kepadaku.

“Sana cari ayahmu, si pelaut yang lupa pake kondom.” Aku dilemparnya. Tas kresek yang membungkusku bergesekan dengan udara sebelum menghantam air lautan malam hari yang dingin.

Lapar Pagi?, Pagawana

Bangun minggu pagi dengan perut lapar tentu saja tak mengenakan. Seperti ada sebentuk tabung gas di cangkokan di tempat seharusnya perutmu berada. Sering kali Gasnya meletup naik dan kamu bersendawa. Tapi sering juga menyembur turun dan menggetarkan buritmu. Dan buruknya lagi gas itu menyebar dalam tubuhmu; Membuat kepalamu pening dan menggerakan tubuhmu untuk menuliskan hal aneh semacam ini.

Santini Terbang, Etgar Keret

Italo melambaikan tangannya dan drum yang menjengkelkan itupun berhenti. Dia menarik nafas panjang dan memejamkan mata. Saat aku melihatnya berdiri diatas panggung kayu kecil itu–mengenakan kostum berkilaunya–hampir menyentuh langi-langit kanvas tenda, semuanya tampak jelas bagiku. Aku akan meninggalkan rumah dan bergabung ke sirkus! Aku juga akan menjadi salah satu Santini terbang, aku akan melompat meskipun udara seperti setan, aku akan menggantung pada tali dengan gigiku.

Italo berputar dua setengah kali di udara dan ditengah jungkir balik ketiga dia menyambar tangan Enrico yang terulur, Santini termuda. Penonton pun bertepuk tangan dengan antusias, Ayah mengambil kotak berondong jagungku dan melemparnya ke udara, kepingan salju asin mendarat di kepalaku.

Beberapa anak harus kabur dari rumah pada tengah malam untuk bergabung dalam sirkus, tapi ayah mengantarku dengan mobilnya. Dia dan ibu pun membantuku mengemasi barang-barangku kedalam koper.

“Aku sangat bangga padamu ,nak,” kata ayah dan memelukku beberapa saat sebelum aku mengetuk pintu karavan Papa Luigi Santini. “Selamat berpisah, Ariel-Marcello Santini. Dan luangkan pikiranmu sedikit untukku dan ibumu kapanpun kamu terbang tinggi diatas lantai sirkus.”

Papa Luigi membuka pintu, dia mengenakan celana panjang berkilau kostum sirkus dan piyama diatasnya.

“Aku ingin bergabung denganmu, Papa Luigi,” aku berbisik. “Aku ingin menjadi Santini terbang juga.”

Papa Luigi menatap tubuhku dengan tatapan tajam, merasakan otot-otot lengan kurusku dengan tertarik, dan akhirnya membiarkan aku masuk.

“Banyak anak yang ingin menjadi Santini terbang,” ia berkata setelah hening beberapa detik. “Mengapa kau berfikir semua orang cocok?”

Aku tak tau harus menjawab apa, aku menggigit bibir bawahku dan tak mengatakan apapun.

“Kau berani?” Papa Luigi bertanya padaku.

Aku menganggukan kepala.

Dengan sebuah gerakan cepat ia meninjukan tinjunya ke depan wajahku.

Aku tak bergerak semilimeter pun dan aku bahkan tak berkedip.

“Hmmm…,” kata Papa Luigi sambil membelai dagunya. “Dan gesit?” Dia bertanya. “Kau tau ‘kan Santini terbang dikenal karena kegesitan mereka?”

Lagi aku menganggukan kepala sambil menggigit bibir bawahku kuat-kuat.

Papa Luigi membentangkan tangan kanannya, menaruh koin seratus lira disana, dan memberi isyarat kepadaku dengan alis kelabunya.

Aku berhasil merenggut koin itu sebelum ia menutup tangannya.

Papa Luigi menganggukan kepalanya. “Sekarang hanya ada satu tes yang tersisa,”dia meneriakan. “Tes kelenturan. Kau harus menyentuh kakimu dengan posisi kaki lurus.”

Aku menyantaikan tubuhku, menarik nafas panjang dan memejamkan mata, persis seperti Italo, saudaraku, yang tampil di pertunjukan malam itu. Aku membungkuk dan menggapai dengan tanganku. Aku bisa melihat ujung jari-jariku pada jarak beberapa milimeter dari ujung sepatuku, hampir menyentuh. Tubuhku sama kencangnya dengan tali yang hendak dilipat tiap menit, tapi aku tak akan menyerah. Empat milimeter pemisahku dari keluarga Santini. Aku tau aku harus bisa melaluinya. Lalu, tiba-tiba, aku mendengar suara. Seperti suara kayu dan kaca pecah bersamaan, begitu keras-memekan telinga. Ayah tampaknya sedang menunggu di luar dalam mobil, merasa khawatir dan bergegas masuk ke dalam karavan. “Kau baik-baik saja?” Dia bertanya dan mencoba membantuku menegakan badan. Aku tak bisa meluruskan punggungku. Papa Luigi mengangkatku dengan tangannya yang kokoh dan kami semua berkendara bersama menuju rumah sakit.

Dengan x-ray mereka menemukan satu sendi terlepas diantara L2-L3 tulang belakang. Saat aku memegang foto diseberang lampu aku bisa melihat semacam titik hitam, seperti tumpahan kopi, di tulang belakang transparan. Pada amplop coklat dinamai “Alfred Fledermaus” ditulis dengan sebuah bolpoin. Bukan Marcello, bukan Santini–hanya liuk-liuk, tulisan jelek.

“Kau bisa saja menekuk lutut,” Papa Luigi berbisik dan menyeka salah satu air mataku. “Kau bisa saja menekuknya sedikit. Aku tak akan mengatakan apapun.”

Istriku, Pagawana

Aku masih ingat 3 bulan yang lalu istriku menangis dan pingsan beberapa kali saat mengetahui aku mati dan saat penguburanku. Satu bulan ia mengurung diri, nampak kacau dan menyedihkan. Satu bulan kemudian ia mulai keluar dan merawat dirinya lagi. Satu bulan kemudian kulihat ia tertawa bersama lelaki lain, dan malamnya mereka bercinta di atas kasur kami. Aku masih ingat (juga) janji kami saat upacara pernikahan; akan selalu setia sampai maut memisahkan. Sekarang aku mengerti janji itu.

Kejutan Dari Kota Bangkok, Haruki Murakami

“Halo, ini 5721-1251?” Seorang wanita bertanya padaku.

“Ya, ini 5721-1251.”

“Maaf saya menelepon mendadak. Sebenarnya saya menelepon 5721-1252.”

“Oke,” kataku.

“Saya sudah menelponnya seharian dari pagi. Sudah lebih dari 30 kali saya mencobanya, namun mereka tak mengangkat. Hm, mereka mungkin dalam perjalanan atau yang semacam itu.”

“Dan?” Aku bertanya.

“Jadi saya berpikir, sebaiknya saya mencoba menelepon–yang saya kira tetangga disebelah mereka, 5721-1251.”

Dia berdeham. “Saya baru saja tiba dari kota bangkok tadi malam. Ini benar-benar mengagumkan, menakjubkan, suatu hal yang luat biasa terjadi di Bangkok. Suatu hal yang tak akan anda percayai. Saya berencana tinggal satu minggu, namun saya mempersingkatnya jadi tiga hari dan pulang lebih awal. Saya ingin membicarakan ini, jadi saya terus menelepon 1252. Saya tak bisa tidur jika tak membicarakannya dengan seseorang, tapi ini bukanlah sesuatu yang bisa saya bicarakan pada setiap orang. Jadi saya berpikir mungkin seseorang di nomor 1251 dapat mendengarkan saya…”
Continue reading “Kejutan Dari Kota Bangkok, Haruki Murakami”

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑